Kerajaan Te'la berdiri sekitar tahun 850 M dipimpin oleh seorang pangeran yang bernama pangeran Arya Johor sering disebut pangeran Arya satus karna kesaktiannya bisa melipatgandakan Raga menjadi seratus, beliau memimpin masyarakat Islam yang baru pindah dari kerajaan kedaro Nusa tenggara Barat .
Kerajaan ini mempunyai seorang Patih yang bernama Arya limandaro yang mempunyai kesaktian bisa terbang dan memiliki amarah layaknya binatang buas yang kelaparan. sekitar pada tahun 930 M Patih Arya Limandaro berbuat yang tidak sopan dengan melakukan penculikan Dinde Putri Ratu Bayan yang bernama Dinde Lengke Sari.
Akhirnya sekitar tahun 930 M diketahuilah bahwa Dinde Putri dicuri oleh Aryaliman Daro begitu murkanya Raja Bayan mendengar informasi tersebut sampai Raja bayan meminta bala bantuan dari kerajaan Selaparang.
Selang beberapa waktu pasukan raja bayan dan kerajaan Selaparang melakukan penyerbuan ke kerajaan te'la dengan serangan yang sangat dahsyat padahal raja kerajaan te'la tidak mengetahui permasalahan kenapa Raja bayan melakukan penyerangan.
Pada waktu itu semua masyarakat kerajan te'la bertempur habis-habisan dan kerajaan te'la dibakar kerajaan di hancurkan dan Patih Arya limandaro tewas terbunuh ditangan Pangeran Arya Panji (Dari kerajaan Selaparang) setelah itu Dinde Putri dibawa kembali ke kerajaan Bayan.
Raja dan semua keluarga kerajan te'la tidak ada yang meninggal dalam peperangan.
Akhirnya pada akhir tahun 930 pangeran Arya Johor(Raja kerajaan te'la) mengumumkan kepada seluruh rakyatnya yang selamat untuk berangkat berpindah dengan mendirikan kerajaan yang baru disebelah timur kerajaan datu te'la dan tempat itu dinamakan kerajaan Sa'wong.
Kerajaan Sa'wong berdiri sekitar akhir tahun 930 M beliau mendirikan kerajaan yang baru
Dengan dipimpin oleh pangeran Arya Johor.
Pada sekitar tahun 965 M beliau melahirkan putra kembar yang bernama Pemban Hamangkui
Dan Pemban Hamangku Sumarjaye.
Setelah 10 tahun kemudian kerajaan Sa'wong mengalami kejayaan,perekonomianya sangat bagus kekuatan tentara kerajaan kuat dan kesejahteraan rakyatnya terjamin.
Ditengah kejayaan kerajaan Sa'wong dengan kekuatan dan kedik jayaan kerajaan ini Datang seorang pemuda yang meminta bantuan untuk dilindungi dari ancaman pembunuhan tutur pemuda itu.
Tapi diluar pengetahuan dari Raja Sa'wong ternyata pemuda tersebut merupakan seorang Patih kerjanya Datu Kuripan yang bernama Patih Arya Tirangge dengan kesalahan patih tersebut mencintai istri Raja dengan Dakwaan Bahwa Patih Tirangge mencintai istri Raja. Itulah sebabnya Patih itu dijadikan sebagai buronan kerajaan.
Sekitar pada tahun 990 M diketahuilah oleh para telik sandi kerajaan Datu Kuripan bahwa Arya Tirangge berada di kerajaan Sa'wong.
Setelah beberapa Bulan lamanya datu Kuripan bersurat kepada Datu pejanggik meminta bantuan untuk melakukan penyerangan ke kerajaan Sa'wong Karna Arya Tirangge seorang musuh dan buronan kerajaan ada disana.
Dalam jangka waktu singkat dilakukan penyerbuan melalui 2 arah yaitu arah timur dan barat, timur dipimpin oleh Pangeran Mas Meraje Kusume(Datu pejanggik) dan sebelah barat dipimpin oleh Raja Dehe(Datu kuripan)
Setelah itu kerajaan Sa'wong diluluhlantahkan sampai merata dengan tanah dan lagi-lagi raja tidak mengethui sebab dari penyerangan kenapa kemudian penyerangan itu dilakukan.
Dan pada waktu itu pemban hamangkui anak yang pertama membantu ayahnya dikerjakan Sa'wong melakukan perlawanan atas penyerangan itu sedangkan adeknya Pemban Hamangku semarjaye dijadikan menantu oleh kerajaan karang asam atas permintaan raja untuk dipersunting dengan putri kerajaan Karang Asem.
Setelah peperangan selese maka masyarakat dan keluarga Raja yang merupakan sisa Dari pembantaian kerajaan pejanggik dan Kuripan diumumkan oleh Rajanya pangeran Arya Johor bahwa akan mendirikan kerajaan baru lagi disebelah Utara kerajaan sebelumnya(kerajaan Sa'wong) tempat dalam Susi dan sepi dan tempat itu diberi nama kerajaan Lesung.
Setelah memerintah dikerajaan itu 10 tahun lamanya maka pangeran Arya Johor memerintahkan kerabat kerajaan untuk pergi berlayar ke Karang Asam Bali guna untuk memberitahu putranya pemban Hamangku Sumarjaye atas penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan Pejanggik dan Kuripan.
Dalam jangka waktu yang tidak lama Pemban Hamangku Sumarjaye kembali menuju Lombok membawa pasukan 2 Kapal perang dari karang Asam untuk melakukan pembalasan atas penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan pejanggik dan kuripan.
Setelah sampai di hadapan ayah handnya hamangku Sumarjaye meminta restu dari ayah handanya namun tujuan maksud dari Pemban Hamangku Sumarjaye tidak diizinkan untuk melakukan pembalasan ke pejanggik karna pada waktu itu akan ada pernikahan antara Dinde Putri Siledendeng (Dinde Putri Madu Rasmin) dengan putra Raden logat yang bernama Raden nune mentas cucu dari Pemban Hamangku Sumarjaye .
Sumber :
*Pengelinsir leluhur kerajaan Datu Kedaro*
1.Denayah seriane(Dusun Mandi Penujak 1870)
2 .Den Tuan Haji Lalu Multazam(Penujak Dalam 1965)
3.Haji Lalu Nursait(karang Daye 1975)
4.Lalu Hambali(Tanak Awu 1978)
5.Denayah Sunarya(Penujak Dalam Bat 1980)
6.Den Tuan Haji Lalu Izzudin(Penujak Dalam Timbul 1998)
Kerajaan ini mempunyai seorang Patih yang bernama Arya limandaro yang mempunyai kesaktian bisa terbang dan memiliki amarah layaknya binatang buas yang kelaparan. sekitar pada tahun 930 M Patih Arya Limandaro berbuat yang tidak sopan dengan melakukan penculikan Dinde Putri Ratu Bayan yang bernama Dinde Lengke Sari.
Akhirnya sekitar tahun 930 M diketahuilah bahwa Dinde Putri dicuri oleh Aryaliman Daro begitu murkanya Raja Bayan mendengar informasi tersebut sampai Raja bayan meminta bala bantuan dari kerajaan Selaparang.
Selang beberapa waktu pasukan raja bayan dan kerajaan Selaparang melakukan penyerbuan ke kerajaan te'la dengan serangan yang sangat dahsyat padahal raja kerajaan te'la tidak mengetahui permasalahan kenapa Raja bayan melakukan penyerangan.
Pada waktu itu semua masyarakat kerajan te'la bertempur habis-habisan dan kerajaan te'la dibakar kerajaan di hancurkan dan Patih Arya limandaro tewas terbunuh ditangan Pangeran Arya Panji (Dari kerajaan Selaparang) setelah itu Dinde Putri dibawa kembali ke kerajaan Bayan.
Raja dan semua keluarga kerajan te'la tidak ada yang meninggal dalam peperangan.
Akhirnya pada akhir tahun 930 pangeran Arya Johor(Raja kerajaan te'la) mengumumkan kepada seluruh rakyatnya yang selamat untuk berangkat berpindah dengan mendirikan kerajaan yang baru disebelah timur kerajaan datu te'la dan tempat itu dinamakan kerajaan Sa'wong.
Kerajaan Sa'wong berdiri sekitar akhir tahun 930 M beliau mendirikan kerajaan yang baru
Dengan dipimpin oleh pangeran Arya Johor.
Pada sekitar tahun 965 M beliau melahirkan putra kembar yang bernama Pemban Hamangkui
Dan Pemban Hamangku Sumarjaye.
Setelah 10 tahun kemudian kerajaan Sa'wong mengalami kejayaan,perekonomianya sangat bagus kekuatan tentara kerajaan kuat dan kesejahteraan rakyatnya terjamin.
Ditengah kejayaan kerajaan Sa'wong dengan kekuatan dan kedik jayaan kerajaan ini Datang seorang pemuda yang meminta bantuan untuk dilindungi dari ancaman pembunuhan tutur pemuda itu.
Tapi diluar pengetahuan dari Raja Sa'wong ternyata pemuda tersebut merupakan seorang Patih kerjanya Datu Kuripan yang bernama Patih Arya Tirangge dengan kesalahan patih tersebut mencintai istri Raja dengan Dakwaan Bahwa Patih Tirangge mencintai istri Raja. Itulah sebabnya Patih itu dijadikan sebagai buronan kerajaan.
Sekitar pada tahun 990 M diketahuilah oleh para telik sandi kerajaan Datu Kuripan bahwa Arya Tirangge berada di kerajaan Sa'wong.
Setelah beberapa Bulan lamanya datu Kuripan bersurat kepada Datu pejanggik meminta bantuan untuk melakukan penyerangan ke kerajaan Sa'wong Karna Arya Tirangge seorang musuh dan buronan kerajaan ada disana.
Dalam jangka waktu singkat dilakukan penyerbuan melalui 2 arah yaitu arah timur dan barat, timur dipimpin oleh Pangeran Mas Meraje Kusume(Datu pejanggik) dan sebelah barat dipimpin oleh Raja Dehe(Datu kuripan)
Setelah itu kerajaan Sa'wong diluluhlantahkan sampai merata dengan tanah dan lagi-lagi raja tidak mengethui sebab dari penyerangan kenapa kemudian penyerangan itu dilakukan.
Dan pada waktu itu pemban hamangkui anak yang pertama membantu ayahnya dikerjakan Sa'wong melakukan perlawanan atas penyerangan itu sedangkan adeknya Pemban Hamangku semarjaye dijadikan menantu oleh kerajaan karang asam atas permintaan raja untuk dipersunting dengan putri kerajaan Karang Asem.
Setelah peperangan selese maka masyarakat dan keluarga Raja yang merupakan sisa Dari pembantaian kerajaan pejanggik dan Kuripan diumumkan oleh Rajanya pangeran Arya Johor bahwa akan mendirikan kerajaan baru lagi disebelah Utara kerajaan sebelumnya(kerajaan Sa'wong) tempat dalam Susi dan sepi dan tempat itu diberi nama kerajaan Lesung.
Setelah memerintah dikerajaan itu 10 tahun lamanya maka pangeran Arya Johor memerintahkan kerabat kerajaan untuk pergi berlayar ke Karang Asam Bali guna untuk memberitahu putranya pemban Hamangku Sumarjaye atas penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan Pejanggik dan Kuripan.
Dalam jangka waktu yang tidak lama Pemban Hamangku Sumarjaye kembali menuju Lombok membawa pasukan 2 Kapal perang dari karang Asam untuk melakukan pembalasan atas penyerangan yang dilakukan oleh kerajaan pejanggik dan kuripan.
Setelah sampai di hadapan ayah handnya hamangku Sumarjaye meminta restu dari ayah handanya namun tujuan maksud dari Pemban Hamangku Sumarjaye tidak diizinkan untuk melakukan pembalasan ke pejanggik karna pada waktu itu akan ada pernikahan antara Dinde Putri Siledendeng (Dinde Putri Madu Rasmin) dengan putra Raden logat yang bernama Raden nune mentas cucu dari Pemban Hamangku Sumarjaye .
Sumber :
*Pengelinsir leluhur kerajaan Datu Kedaro*
1.Denayah seriane(Dusun Mandi Penujak 1870)
2 .Den Tuan Haji Lalu Multazam(Penujak Dalam 1965)
3.Haji Lalu Nursait(karang Daye 1975)
4.Lalu Hambali(Tanak Awu 1978)
5.Denayah Sunarya(Penujak Dalam Bat 1980)
6.Den Tuan Haji Lalu Izzudin(Penujak Dalam Timbul 1998)
Lanjutkan...
BalasHapus